Posted On Januari 5, 2026

Ruang Tengah dan Sinyal Harapan

Admin Danesh 0 comments
Bebe >> Cerpen >> Ruang Tengah dan Sinyal Harapan

Ruang Tengah dan Sinyal Harapan

Setiap pulang sekolah, ruang tengah menjadi tempat favorit aku dan kakakku.

Di sanalah kami duduk menikmati kudapan buatan ibu dan teh hangat kesukaan kami. Ruang itu tidak luas, tetapi sangat istimewa karena sinyal Wi-Fi paling kuat berada di sana.

Ayah sengaja meletakkan router di ruang tengah agar semua anggota keluarga bisa menggunakannya secara adil.

Biasanya aku menghabiskan waktu dengan menggulir media sosial atau bermain gim. Kadang bermain bersama teman secara daring, kadang melawan kakakku sendiri. Suara kami sering menggema di ruang kecil itu. Ayah atau ibu berkali-kali mengingatkan agar kami tidak berteriak-teriak, baik karena tegang maupun terlalu gembira saat menang.

Ibu juga sering menegur ketika kami terlalu asyik bermain hingga lupa waktu. Hingga suatu sore, kesabarannya benar-benar habis.

“Kalau internet hanya dipakai untuk hiburan yang menghabiskan waktu,” kata ibu dengan suara tegas,

“mulai bulan depan kita tidak perlu berlangganan internet lagi.”

Aku dan kakakku terkejut sekaligus kecewa.

Suara ibu terdengar oleh ayah. Perlahan ayah mendekati kami dan berkata lembut,

“Kalian dengar kata ibu? Masih mau langganan internet?”

Serempak kami menjawab,

“Mau, mau, Yah!”

Ayah tersenyum kecil.

“Nanti ayah bicara dengan ibu pelan-pelan, tapi dengan satu syarat. Internet harus dimanfaatkan dengan baik. Boleh bermain gim, asal tidak berlebihan. Cobalah ambil manfaatnya untuk hal yang lebih menarik, misalnya mengasah hobi kalian. Syukur-syukur kalau hobinya bisa menghasilkan.”

Malam itu aku merenung di kamar. Hati masih terasa mencelos, tetapi kata-kata ayah terus terngiang di telinga.

Dengan sedikit malas, aku membuka ponsel dan menggulir media sosial. Tiba-tiba aku teringat pesan di grup kelas. Besok adalah batas akhir pengumpulan tugas Bahasa Indonesia: membuat iklan.

Aku segera membuka aplikasi Canva, aplikasi gratis yang paling mudah kugunakan. Aku mulai mengutak-atik gambar, memilih warna, menyusun tulisan, dan menentukan latar. Tanpa sadar, aku begitu fokus hingga lupa waktu.

Tiba-tiba ayah berdiri di belakangku.

“Ayah bikin kaget saja,” kataku sambil menoleh.

Ayah tersenyum.

“Keren, loh, karyamu.”

“Ini tugas Bahasa Indonesia, Yah. Aku bikin iklan jamu, produknya ibu,” jawabku.

Ayah tampak antusias.

“Nah, ini bisa kamu tunjukkan ke ibu. Biar ibu tahu internet di rumah tidak sia-sia. Kamu juga bisa tawarkan bantuan membuat poster, logo, atau brosur untuk jualan ibu.”

Aku terdiam. Baru kusadari, apa yang kulakukan ternyata bisa bermanfaat untuk ibu—dan juga untuk diriku sendiri.

Aku mengangguk lalu berlari ke dapur.

“Ibu… ibu… coba lihat ini! Keren, kan?”

Ibu memperhatikan layar ponselku dengan saksama.

“Wah, kamu bisa buat seperti ini? Bagus sekali. Ibu suka.”

Aku tersenyum lebar.

“Ibu janji ya, internetnya jangan diputus. Aku bantu ibu bikin poster dan iklan untuk diposting di WhatsApp. Aku juga janji main gimnya tidak berlebihan.”

Ibu tersenyum haru lalu memelukku.

“Baiklah. Ibu tidak akan memutus internet, asal digunakan dengan tepat dan baik. Terima kasih sudah mencoba membuat iklan yang cantik untuk jamu ibu. Kalau kamu menjaga niat kecil ini dengan konsisten, ibu yakin hobimu bisa membawa peluang untukmu.”

Malam itu aku berjanji dalam hati untuk menggunakan internet dengan lebih bijak.

Aku ingin mencoba hal-hal baru, belajar lebih banyak. Suatu hari nanti, aku berharap hobiku di dunia digital bisa membawaku pada masa depan yang lebih baik.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post

Petualangan Kotak Ajaib

  Petualangan Kotak Ajaib Dika dan Nara, dua bersaudara, sering tinggal berdua di rumah. Orang…

Jika Mimi Bisa, Aku Juga Bisa

  Jika Mimi Bisa, Aku Juga Bisa “Win!” teriak Bu Asih dari kamar mandi. “Handuk…

Di Antara Dua Dunia

Di Antara Dua Dunia Malam sudah larut. Mata Adit berat, tapi ia tetap bermain game…