Mangga Pak Burhan
Di halaman rumah Pak Burhan, tumbuh pohon mangga besar yang selalu jadi perhatian anak-anak di kampung. Buahnya manis dan sangat menggoda.
Hari itu, Ruly dan teman-temannya sedang bermain.
“Lihat! Ada mangga di atas pohon, sudah besar-besar!” teriak Bimo, teman yang paling bandel.
Ruly menatap Bimo serius.
“Eh, jangan ambil dulu! Itu milik Pak Burhan, belum waktunya.”
Bimo cuma nyengir.
“Ah, kita ambil diam-diam, Rul? Cuma sedikit kok, nggak ada yang lihat ini!”
Ruly menghela napas, bimbang sebentar, lalu tersenyum nakal.
“Oke, kalau begitu kita ambil hati-hati ya, jangan sampai Pak Burhan tahu.”
Mereka mengendap-endap, memanjat, dan hampir tergelincir.
“Hei, jangan berisik nanti ketahuan!” setengah berbisik Kiki yang menunggu di bawah.
Sesekali Bimo tergelincir di akar pohon, Ruly hampir jatuh karena ranting patah.
Bimo menggapai mangga paling atas.
“Eh, itu buat aku duluan!” teriaknya.
“Tidak! Aku yang lihat pertama!” balas Ruly sambil menahan tangan Bimo.
Kiki yang berada di bawah mencoba menengahi.
“Stop, kalian berdua! Jangan sampai jatuh!” seru Kiki panik.
Mangga hampir terjatuh, ranting berderak. Tiba-tiba terdengar:
“Hemm, hemm…”
Pak Burhan muncul dari teras rumah. Kiki buru-buru bersembunyi di balik pagar daun, pasrah.
“Tamatlah kita, Rul,” gumam Bimo.
Ruly sudah sampai di bawah dan akan lari, tapi keburu ditangkap Pak Burhan.
“Kalian, nakal ya ambil buah tanpa izin! Cepat turun!” hardik Pak Burhan tegas, menunjuk Bimo yang masih di atas pohon.
Ruly menunduk, Bimo hampir ingin menangis, Kiki muncul dengan gemetar.
“Maaf, Pak, buah mangga Bapak sangat menggoda. Kami cuma ingin mencicipi sedikit…” kata Ruly cepat.
Bimo menahan napas, wajahnya pucat karena takut.
“Diam kalian! Duduk semua!” perintah Pak Burhan tegas.
“Sini duduk di sini,” kata Pak Burhan merendahkan suaranya. Ruly menurut, takut.
Bimo yang ketakutan, celananya basah karena gugup.
“Kamu juga, ayo duduk di sini,” ajak Pak Burhan.
Tiba-tiba Kiki muncul karena tidak tega meninggalkan teman-temannya.
“Eh… kamu juga ikut-ikutan?” seru Pak Burhan, terkejut melihat Kiki ternyata keponakannya.
Setelah mereka duduk bertiga, Pak Burhan mengambil galah, memetik beberapa buah mangga yang agak masak, dan memberikannya kepada ketiganya.
“Ini untuk kalian. Lain kali jangan mengambil milik orang lain tanpa izin ya. Kalian bisa merusak batang dan menjatuhkan buah yang belum masak,” nasihat Pak Burhan bijak.
“Terima kasih, Pak,” jawab mereka serempak.
“Sudah sana, pulang. Kamu, cepat ganti celanamu,” lanjut Pak Burhan sambil menunjuk Bimo.
Bimo tidak bisa menyembunyikan malunya, wajahnya memerah seperti kepiting rebus.
Mereka semua tidak dapat menahan tawa. Sepanjang jalan pulang, mereka tertawa lepas sambil berjanji lain kali akan meminta izin sebelum mengambil buah tetangga.