Posted On Januari 5, 2026

Mengapa Saya Tidak Selalu Bisa Tertawa

Admin Danesh 0 comments
Bebe >> Serba-Serbi >> Mengapa Saya Tidak Selalu Bisa Tertawa

Mengapa Saya Tidak Selalu Bisa Tertawa

Humor sering dipahami sebagai pelarian atau hiburan semata. Padahal, dalam banyak kasus, humor bekerja sebagai cara tubuh menurunkan ketegangan tanpa harus banyak kata. Ia menjadi katup pelepas ketika tekanan terlalu penuh untuk ditampung.

Banyak orang menyukai humor vulgar bukan karena selera mereka buruk, melainkan karena itu adalah cara tercepat yang mereka kenal untuk merasa lega. Hal ini kerap disalahpahami. Humor vulgar sering dinilai sebagai persoalan moral atau selera, padahal lebih sering berkaitan dengan mekanisme tubuh dalam melepaskan tekanan.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang hidup di bawah tekanan yang berlapis. Ada aturan sosial, peran gender, tuntutan ekonomi, hingga emosi yang tidak pernah benar-benar diberi ruang keluar. Marah dianggap tidak pantas. Lelah harus ditahan. Sedih diminta segera berlalu. Emosi menumpuk, tetapi tidak diajari bagaimana cara mengolahnya.

Di titik itulah tubuh mulai mencari jalan pintas.

Humor vulgar bekerja secara instan. Ia tidak membutuhkan refleksi atau jarak batin. Ia langsung menyentuh area yang paling primitif—tubuh, seks, dan hal-hal tabu—lalu memicu tawa refleks. Mekanismenya mirip dengan orang yang kelelahan lalu mencari gula, orang yang tegang lalu merokok, atau orang yang tertekan lalu tertawa pada candaan kasar. Bukan karena itu pilihan paling elegan, tetapi karena itu yang paling cepat bekerja.

Jika ditanya, di mana letak lucunya, sering kali jawabannya bukan pada maknanya, melainkan pada pelepasan tegang yang terjadi setelahnya. Itulah sebabnya, semakin lelah seseorang, semakin sulit ia menikmati humor yang halus. Humor halus membutuhkan ruang batin, sementara humor vulgar cukup memicu reaksi tubuh.

Penting untuk dicatat bahwa orang yang tertawa pada humor vulgar tidak selalu sadar bahwa yang ia nikmati bukan kualitas humornya, melainkan rasa lega sesaat setelah tekanan dilepaskan. Yang dirasakan sering kali hanya satu hal sederhana: “akhirnya bisa ketawa.”

Lalu mengapa sebagian orang—terutama yang lebih sadar secara batin—sering tidak tahan dengan humor semacam ini? Bukan karena mereka tidak punya selera humor, melainkan karena tubuh mereka tidak lagi membutuhkan ledakan. Mereka sudah belajar menenangkan diri, sehingga menjadi lebih peka terhadap agresi tersembunyi di balik candaan. Maka yang dirasakan bukan “tidak lucu”, melainkan “tidak menenangkan”.

Di titik ini saya mulai memahami satu hal sederhana: humor vulgar sering dipilih bukan karena ia paling lucu, tetapi karena ia paling cepat melepaskan ketegangan. Dan tidak semua tubuh membutuhkan cara pelepasan yang sama.

Humor yang Menertawakan Orang Lain

Ada jenis humor lain yang juga membuat orang tertawa, bukan semata karena kelucuannya, melainkan karena ia tidak sedang menjadi objeknya. Humor semacam ini sering menjadikan tubuh, gender, status sosial, atau kelompok tertentu sebagai bahan candaan.

Tawa muncul bersamaan dengan rasa aman: setidaknya bukan aku yang ditertawakan.

Secara kejiwaan, humor seperti ini berfungsi sebagai penegasan posisi. Ia memberi rasa unggul sesaat, meredakan rasa kecil di dalam diri, serta menciptakan batas antara “kita” dan “mereka”. Ini bukan kejahatan moral, melainkan mekanisme ego untuk bertahan.

Namun tidak semua orang bisa tertawa dengan cara yang sama. Sebagian orang, tanpa bermaksud merasa lebih baik, tidak bisa menikmati humor yang menjadikan orang lain sebagai objek. Empati mereka aktif. Tubuh mereka menangkap agresi halus di balik tawa. Sistem saraf mereka menolak ikut menyerang, meski dalam bentuk candaan.

Bukan karena sok baik, melainkan karena batin mereka tidak merasa aman menertawakan yang lain.

Di sanalah sering muncul kalimat yang jujur namun sulit dijelaskan: “Saya tahu ini dimaksudkan lucu, tapi tubuh saya menolak tertawa.” Mungkin bukan humornya yang salah. Barangkali kita hanya tertawa dari tempat batin yang berbeda.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post

Teknik Membaca Berita yang Tepat

  Teknik Membaca Berita yang Tepat Membaca berita bukan hanya sekadar membaca teks, tetapi juga…