Posted On Januari 19, 2026

Petualangan Kotak Ajaib

Admin Danesh 0 comments
Bebe >> Cerpen , Fantasi >> Petualangan Kotak Ajaib

 

Petualangan Kotak Ajaib

Dika dan Nara, dua bersaudara, sering tinggal berdua di rumah. Orang tua mereka sibuk bekerja dan pulang larut malam. Rumah mereka berantakan, mainan, buku, dan barang-barang berserakan. Setiap kali dibutuhkan, mereka kesulitan menemukannya. Suatu sore saat hujan deras, Dika mencari bola kecil kesayangannya. Ia menelusuri kamar, lemari, dan tumpukan mainan di lantai. “Aduh, bola ini bisa hilang di mana aja!” keluhnya. Nara, yang sedang menggambar, mengangkat bahu. “Ya itu lah, kamu nggak pernah rapih. Coba cek kotak tua di sudut ruang tamu. Siapa tahu ada di dalamnya.” Dika menuju ruang tamu. “Hah, benda apa ini?” Ia membuka kotak tua berdebu. Begitu tutupnya terbuka… cahaya hijau menyala, dan seketika mereka tersedot ke dalam kotak itu! Mereka terbangun di dunia miniatur aneh. Lantai seperti papan catur raksasa, pohon-pohon dari krayon raksasa, dan mainan-mainan berserakan kini hidup! Bola kecil Dika meloncat-loncat sambil tertawa. “Eh, ini… nyata?” gumam Nara. Tiba-tiba, robot mainan muncul. Suaranya keras: “Kalian terjebak di sini! Untuk selamat, susun semua benda dalam pola benar agar bisa pulang. Salah langkah, tersesat selamanya!” Dika dan Nara menelan ludah. Mereka harus menyelesaikan misi misterius ini. Selama ini mereka terlalu cuek dengan barang-barangnya. Bagaimana bisa berhasil tanpa kesalahan? Kekacauan pun pecah. Karpet gulung besar tergelincir dari tembok, menimpa lantai dengan suara “deng-deng!” Bola nakal meloncat menabrak kaki mereka, bersiul ceria. Boneka nakal dan robot mini menutup jalur, menggerakkan tangan dan kaki kecil mereka sambil berseru: “Hei, jangan ambil jalan kami!” “Ini gila… mainannya bisa ngomong!” Nara melompat ke samping menghindari karpet yang hampir menimpa mereka. “Kerja sama, Dika! Aku pegang buku ini, kamu geser karpet itu!” seru Nara, menahan Kribo, boneka bulu cokelat yang hampir menutup jalur. “Hati-hati! Karpet ini berat banget, jangan sampai jatuh!” balas Dika, menahan gulungan karpet, sementara bola kecil meloncat di kakinya. Beberapa kali mereka salah langkah. Karpet hampir menimpa rak buku, bola menabrak lemari miniatur, boneka nakal menutup jalur lagi, dan robot mini mengejek: “Kalian lambat banget! Salah langkah, dijamin gak bisa balik?” “Crewet, dasar robot tengil”, Rutuk Nara Dika dan Nara saling memberi petunjuk, menuntun boneka nakal ke tempatnya, mengarahkan robot mini, dan menyusun buku dengan hati-hati. Perlahan, jalur karpet aman, buku tersusun rapi, boneka nakal mengikuti jalur yang mereka buat. Bola kecil meloncat di sisi jalan sambil bersiul gembira. Kribo menepuk tangan kecilnya sambil melompat-lompat. Robot hijau mini tersenyum: “Hah, akhirnya kalian menemukan cara sendiri untuk menyelesaikan misi. Selamat, meskipun kalian Lama banget!” Cahaya hijau di kotak tua meredup. Dika dan Nara menatap sekeliling… dan mereka kembali di ruang tamu sendiri. Kotak tua tertutup rapat, tapi semua mainan dan buku tertata rapi, seolah mereka tidak sadar sedang merapikannya sendiri. “Wah, nggak nyangka kotak itu beneran ajaib!” kata Nara. “Mulai sekarang, aku akan lebih merapikan barang-barang,” sahut Dika. “Kalau nggak, mainan nakal bisa balik lagi, dan kita nggak bakal bisa pulang!” Malam itu, Ayah dan Ibu tersenyum melihat rumah rapi. “Kalian hebat, rumah jadi tertata rapi! Hadiah makan malam istimewa menanti,” puji mereka. Sejak hari itu, Dika dan Nara selalu merapikan dan menjaga barang-barang mereka. Bola kecil dan Kribo kadang “mengintip” dari rak sambil bersiul, seolah mengawasi mereka. Dunia nyata jadi lebih rapi, dan petualangan kotak ajaib itu tetap menjadi cerita lucu, seru, dan edukatif yang selalu mereka ingat.

 

Related Post

Menunggu Pesan

Menunggu Pesan Sore hari, sepulang sekolah, aku berjalan gontai menuju kamar. Aku langsung meraih ponsel…

Sore di Tepi Sungai

Sore di Tepi Sungai “Nilaimu turun lagi, Ucok. Kalau begini terus, Ibu panggil orang tuamu.”…

Jika Mimi Bisa, Aku Juga Bisa

  Jika Mimi Bisa, Aku Juga Bisa “Win!” teriak Bu Asih dari kamar mandi. “Handuk…