Posted On Januari 19, 2026

Belajar Sabar dari Seduhan Kopi

Admin Danesh 0 comments
Bebe >> Cerpen , Inspiratif >> Belajar Sabar dari Seduhan Kopi

Belajar Sabar dari Seduhan Kopi

 

“Duh… rasanya semua kerjaan ini nggak ada habisnya,” gumam Arya kesal sambil menatap layar laptop. Jari-jari mengetuk meja tanpa ritme, kepala terasa berat, dan rasa putus asa perlahan merayap masuk. Deadline dari bos membuat sarafnya menegang.

Ia menarik napas panjang, menatap sekeliling kafe yang hangat. Aroma kopi yang baru digiling terasa menenangkan hati yang kacau. Dari balik counter, barista tersenyum lembut, seolah tahu beban yang dipikul Arya.

“Bang, Americano satu cangkir, ya,” pesannya. Ali, sang barista, tersenyum seraya mengangguk. “Sepertinya kamu butuh kopi yang bisa bikin pikiran sedikit tenang, ya?” ujarnya sambil menimbang biji kopi dengan teliti.

Arya mengangguk setengah malas. “Iya… tapi rasanya nggak ada yang bisa bikin semua ini lebih mudah.”

Ali meneteskan air panas perlahan ke biji kopi yang sudah digiling. Uap hangat mengepul, memenuhi udara kafe dengan aroma yang menenangkan. “Abang kurang rileks sedikit, coba jeda sejenak,” kata Ali. “Anda tahu, menyeduh kopi itu butuh kesabaran. Dari memilih biji, menimbang takaran, sampai menunggu air menetes ke cangkir… semuanya butuh proses dan waktu. Nikmatnya nggak instan, harus dinikmati prosesnya dulu.”

Arya menatap cangkir kopi yang baru saja diletakkan di depannya. Uapnya mengepul hangat, dan seketika ia tersenyum tipis. Ia menyesap sedikit kopi, pahit-manisnya mengalir di lidah, dan pikirannya mulai jernih.

Dalam hati, Arya merenung. Selama ini aku terlalu terburu-buru… terlalu ingin semuanya cepat selesai, hingga lupa menikmati prosesnya. Mungkin hidup ini memang seperti kopi—nikmatnya datang kalau kita sabar menunggu, kalau kita mau menghargai setiap langkahnya.

Ia menarik napas lebih dalam. Secangkir kopi di tangan, senyum tipis di wajah, dan rasa berat yang sebelumnya menekan, kini perlahan hilang. Pelajaran kecil dari secangkir kopi itu terasa hangat, tapi kuat.itu terasa hangat, tapi kuat.

“Terima kasih, Bang,” ucap Arya tulus. Ia memutuskan pulang, mandi, lalu tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya. Sebelum tidur, ia menyalakan alarm agar bisa terbangun pukul tiga pagi.

Setelah tubuhnya pulih dan segar, Arya melanjutkan pekerjaan jam tiga pagi. Tak disangka, semua keruwetan semalam perlahan terurai, dan pekerjaannya selesai tepat waktu. Jam tujuh pagi ia bergegas menuju kantor, menyerahkan hasil kerja dini harinya dengan senyum lega.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post

Bisikan Cermin

Bisikan Cermin (Cerpen Fantasi Remaja) Sore itu, Dira duduk termenung di atas ranjang kamarnya. Sudah…

Menunggu Pesan

Menunggu Pesan Sore hari, sepulang sekolah, aku berjalan gontai menuju kamar. Aku langsung meraih ponsel…

Serbuan Serangga Gigi

Serbuan Serangga Gigi “Putri, sikat giginya dulu, sayang!” panggil ibu dari dapur. “Ah, bentar, Bu……