Posted On Januari 19, 2026

Menunggu Pesan

Admin Danesh 0 comments
Bebe >> Cerpen , Inspiratif >> Menunggu Pesan

Menunggu Pesan

Sore hari, sepulang sekolah, aku berjalan gontai menuju kamar. Aku langsung meraih ponsel dan mengetik pesan untuk Amanda, sahabat satu bangkuku. Pesan itu terkirim.

“Aku nggak nyaman dengan candaanmu kemarin di grup. Aku harap kita bisa bicara baik-baik.”

Ponsel itu berpindah dari tanganku ke meja, lalu kembali lagi ke tanganku. Layarnya masih sama.

Dibaca.

Aku menghela napas pelan. Pesan itu kukirim dua jam lalu.

Itu bukan pesan marah. Aku membacanya berulang kali untuk memastikan tidak ada kata yang terdengar kasar. Aku hanya ingin jujur. Namun justru setelah pesan itu terkirim, kepalaku tidak berhenti bekerja.

Mungkin aku terlalu sensitif. Mungkin aku lebay. Atau… seharusnya aku diam saja.

Aku menatap layar ponsel lagi. Tidak ada balasan. Hanya tanda dibaca yang diam seperti mengejek.

Dadaku terasa sesak. Aku membayangkan berbagai kemungkinan—dia tersinggung, membicarakanku dengan teman-teman lain, atau sejak awal perasaanku memang tidak penting.

Aku bangkit dan mondar-mandir. Kepalaku penuh dengan pertanyaan yang tidak punya jawaban.

Kenapa satu pesan bisa membuatku merasa sekecil ini?

Aku berhenti di depan cermin. Wajahku terlihat lelah.

Tunggu… sejak kapan keberanianku bicara jujur malah membuatku merasa bersalah? batinku.

Aku duduk kembali dan menelungkupkan ponsel. Aku teringat kalimat guru BK di sekolah,

“Menjaga perasaan orang lain itu penting, tapi menjaga perasaan sendiri juga sama pentingnya.”

Aku mengulang kalimat itu dalam hati.

Aku mengirim pesan bukan untuk mencari pembenaran, apalagi agar disukai. Aku mengirimnya karena aku ingin dihargai.

Perlahan napasku menjadi lebih teratur. Aku membuka buku dan mengerjakan tugas yang sempat kutunda—bukan untuk mengalihkan perhatian, tetapi untuk mengembalikan ketenangan pada diriku sendiri.

Satu jam kemudian, ponselku bergetar.

“Maaf. Aku baru sadar bercandaanku kebablasan. Aku nggak bermaksud bikin kamu nggak nyaman.”

Aku membaca pesan itu pelan. Ada rasa lega; napasku terasa lebih ringan dan tenang.

Aku membalas singkat,

“Terima kasih sudah mau ngerti.”

Aku meletakkan ponsel.

Hari itu aku belajar satu hal penting: jawaban orang lain memang bisa melegakan, tetapi aku tidak boleh menggantungkan harga diriku pada respons siapa pun.

Kadang, berani jujur diperlukan agar teman tahu mana yang membuatku tidak nyaman, dan aku tetap menghargai diriku sendiri.

Menunggu Pesan

Sore hari, sepulang sekolah, aku berjalan gontai menuju kamar. Aku langsung meraih ponsel dan mengetik pesan untuk Amanda, sahabat satu bangkuku. Pesan itu terkirim.

“Aku nggak nyaman dengan candaanmu kemarin di grup. Aku harap kita bisa bicara baik-baik.”

Ponsel itu berpindah dari tanganku ke meja, lalu kembali lagi ke tanganku. Layarnya masih sama.

Dibaca.

Aku menghela napas pelan. Pesan itu kukirim dua jam lalu.

Itu bukan pesan marah. Aku membacanya berulang kali untuk memastikan tidak ada kata yang terdengar kasar. Aku hanya ingin jujur. Namun justru setelah pesan itu terkirim, kepalaku tidak berhenti bekerja.

Mungkin aku terlalu sensitif. Mungkin aku lebay. Atau… seharusnya aku diam saja.

Aku menatap layar ponsel lagi. Tidak ada balasan. Hanya tanda dibaca yang diam seperti mengejek.

Dadaku terasa sesak. Aku membayangkan berbagai kemungkinan—dia tersinggung, membicarakanku dengan teman-teman lain, atau sejak awal perasaanku memang tidak penting.

Aku bangkit dan mondar-mandir. Kepalaku penuh dengan pertanyaan yang tidak punya jawaban.

Kenapa satu pesan bisa membuatku merasa sekecil ini?

Aku berhenti di depan cermin. Wajahku terlihat lelah.

Tunggu… sejak kapan keberanianku bicara jujur malah membuatku merasa bersalah? batinku.

Aku duduk kembali dan menelungkupkan ponsel. Aku teringat kalimat guru BK di sekolah,

“Menjaga perasaan orang lain itu penting, tapi menjaga perasaan sendiri juga sama pentingnya.”

Aku mengulang kalimat itu dalam hati.

Aku mengirim pesan bukan untuk mencari pembenaran, apalagi agar disukai. Aku mengirimnya karena aku ingin dihargai.

Perlahan napasku menjadi lebih teratur. Aku membuka buku dan mengerjakan tugas yang sempat kutunda—bukan untuk mengalihkan perhatian, tetapi untuk mengembalikan ketenangan pada diriku sendiri.

Satu jam kemudian, ponselku bergetar.

“Maaf. Aku baru sadar bercandaanku kebablasan. Aku nggak bermaksud bikin kamu nggak nyaman.”

Aku membaca pesan itu pelan. Ada rasa lega; napasku terasa lebih ringan dan tenang.

Aku membalas singkat,

“Terima kasih sudah mau ngerti.”

Aku meletakkan ponsel.

Hari itu aku belajar satu hal penting: jawaban orang lain memang bisa melegakan, tetapi aku tidak boleh menggantungkan harga diriku pada respons siapa pun.

Kadang, berani jujur diperlukan agar teman tahu mana yang membuatku tidak nyaman, dan aku tetap menghargai diriku sendiri.

Menunggu Pesan

Sore hari, sepulang sekolah, aku berjalan gontai menuju kamar. Aku langsung meraih ponsel dan mengetik pesan untuk Amanda, sahabat satu bangkuku. Pesan itu terkirim.

“Aku nggak nyaman dengan candaanmu kemarin di grup. Aku harap kita bisa bicara baik-baik.”

Ponsel itu berpindah dari tanganku ke meja, lalu kembali lagi ke tanganku. Layarnya masih sama.

Dibaca.

Aku menghela napas pelan. Pesan itu kukirim dua jam lalu.

Itu bukan pesan marah. Aku membacanya berulang kali untuk memastikan tidak ada kata yang terdengar kasar. Aku hanya ingin jujur. Namun justru setelah pesan itu terkirim, kepalaku tidak berhenti bekerja.

Mungkin aku terlalu sensitif. Mungkin aku lebay. Atau… seharusnya aku diam saja.

Aku menatap layar ponsel lagi. Tidak ada balasan. Hanya tanda dibaca yang diam seperti mengejek.

Dadaku terasa sesak. Aku membayangkan berbagai kemungkinan—dia tersinggung, membicarakanku dengan teman-teman lain, atau sejak awal perasaanku memang tidak penting.

Aku bangkit dan mondar-mandir. Kepalaku penuh dengan pertanyaan yang tidak punya jawaban.

Kenapa satu pesan bisa membuatku merasa sekecil ini?

Aku berhenti di depan cermin. Wajahku terlihat lelah.

Tunggu… sejak kapan keberanianku bicara jujur malah membuatku merasa bersalah? batinku.

Aku duduk kembali dan menelungkupkan ponsel. Aku teringat kalimat guru BK di sekolah,

“Menjaga perasaan orang lain itu penting, tapi menjaga perasaan sendiri juga sama pentingnya.”

Aku mengulang kalimat itu dalam hati.

Aku mengirim pesan bukan untuk mencari pembenaran, apalagi agar disukai. Aku mengirimnya karena aku ingin dihargai.

Perlahan napasku menjadi lebih teratur. Aku membuka buku dan mengerjakan tugas yang sempat kutunda—bukan untuk mengalihkan perhatian, tetapi untuk mengembalikan ketenangan pada diriku sendiri.

Satu jam kemudian, ponselku bergetar.

“Maaf. Aku baru sadar bercandaanku kebablasan. Aku nggak bermaksud bikin kamu nggak nyaman.”

Aku membaca pesan itu pelan. Ada rasa lega; napasku terasa lebih ringan dan tenang.

Aku membalas singkat,

“Terima kasih sudah mau ngerti.”

Aku meletakkan ponsel.

Hari itu aku belajar satu hal penting: jawaban orang lain memang bisa melegakan, tetapi aku tidak boleh menggantungkan harga diriku pada respons siapa pun.

Kadang, berani jujur diperlukan agar teman tahu mana yang membuatku tidak nyaman, dan aku tetap menghargai diriku sendiri.

Related Post

Bisikan Cermin

Bisikan Cermin (Cerpen Fantasi Remaja) Sore itu, Dira duduk termenung di atas ranjang kamarnya. Sudah…

Ruang Tengah dan Sinyal Harapan

Ruang Tengah dan Sinyal Harapan Setiap pulang sekolah, ruang tengah menjadi tempat favorit aku dan…

Belajar Sabar dari Seduhan Kopi

Belajar Sabar dari Seduhan Kopi   “Duh… rasanya semua kerjaan ini nggak ada habisnya,” gumam…