Bisikan Cermin
(Cerpen Fantasi Remaja)
Sore itu, Dira duduk termenung di atas ranjang kamarnya. Sudah dua pekan ia menolak ajakan teman-temannya untuk nongkrong di kafe setiap akhir pekan. Bukan karena ia tak suka berkumpul, melainkan karena ada mimpi yang mulai ia jaga sendiri.
Ucapan Syifa terus terngiang di kepalanya.
“Dira, kamu sombong. Sekarang kamu jaim banget.”
Dira menggigit bibirnya.
“Apa aku salah kalau mulai menjauh?” gumamnya pelan.
“Aku juga ingin belajar.”
Pandangan Dira tertuju pada cermin di ujung kamar.
Cermin itu bukan cermin biasa. Bingkainya kusam, dan setiap malam permukaannya seperti berembun, meski jendela tertutup rapat.
Ibunya pernah bilang, cermin itu sudah ada sejak rumah ini pertama kali dihuni.
Tak pernah diganti. Tak pernah dibuang.
Cermin kesayangan ibunya, peninggalan sang nenek.
Dira berdiri di depannya.
Tiba-tiba, bayangan di cermin beriak, seolah permukaannya adalah air.
Pantulan Dira tersenyum lebih dulu.
“Kamu ragu,” bisik cermin itu.
Dira terkejut, tetapi kakinya tak bergerak.
“Aku cuma capek,” katanya jujur.
“Mereka bebas ke mana saja. Aku harus memikirkan biaya. Kasihan ibu, penjualan kuenya hanya cukup untuk makan dan kebutuhan sederhana.”
Di dalam cermin, bayangan Dira berubah.
Ia melihat dirinya mengenakan seragam sekolah lanjutan, membawa tas penuh buku, wajahnya lelah tetapi bangga.
“Kamu tidak meninggalkan siapa pun,” bisik cermin itu lagi.
“Kamu sedang berjalan lebih pelan, supaya bisa sampai lebih jauh.”
Air mata Dira menggenang.
“Aku takut sendirian.”
Cermin berkilau lembut.
“Orang yang punya tujuan kadang memang harus berjalan sendiri dulu,” katanya.
“Tapi itu bukan kesepian. Itu persiapan.”
Saat Dira mengusap matanya, bayangan di cermin kembali normal.
Tak ada riak. Tak ada suara.
Namun Dira tersadar, ia seakan memiliki sahabat dari dimensi lain—
sahabat yang menguatkan langkahnya.
Malam itu, Dira menutup grup chat tanpa rasa bersalah. Ia membuka buku dan menyusun jadwal belajar. Berkutat dengan soal-soal latihan TKA. Setiap halaman terasa lebih ringan.
Keesokan harinya di sekolah, Amira memanggilnya.
“Hai, Dira! Gabung, yuk.”
Dira mendekat. Ia mendengarkan cerita mereka tentang kafe favorit. Keseruan itu sempat mengiris hatinya.
Tyas berkata dengan nada sinis,
“Sayang kamu nggak ikut, jadi nggak seru.”
Dira tersenyum.
Ia tetap bisa tertawa tanpa harus selalu ikut. Meski sadar ia mungkin akan jadi bahan obrolan karena dianggap anggota geng yang tidak asyik, Dira tetap menyesuaikan diri. Ia ikut tertawa dan sesekali menggoda mereka dengan kalimat-kalimat lucunya.
Sepulang sekolah, Dira kembali berdiri di depan cermin.
Pantulannya biasa saja. Namun di sudut kaca, seberkas cahaya berkilau sesaat.
Seolah cermin berbisik sekali lagi:
Teruskan langkahmu.
Dira mengangguk.
Ia tahu pilihannya sudah tepat.
Dira memilih cita-citanya tanpa mengorbankan diri hanya untuk menyenangkan gengnya.
Ia tetap mencintai dan menerima mereka—
dengan versinya sendiri.