Posted On Januari 13, 2026

Kursi Paling Belakang

Admin Danesh 0 comments
Bebe >> Cerpen >> Kursi Paling Belakang

Kursi Paling Belakang

Kursi itu selalu kosong. Bukan karena rusak, hanya karena letaknya terlalu belakang dekat jendela, agak terpisah dari yang lain.

Setiap pagi, sebelum anak-anak datang, Bu Rini selalu berhenti sejenak di sana. Menyentuh sandarannya, memastikan debu tak menempel. Tidak tahu alasannya. Dirinya sendiri jarang benar-benar bertanya.

Suatu hari, Bu Rini diminta memindahkan tempat duduk. Katanya, anak-anak harus duduk rapi dan merata. Tidak boleh ada yang selalu di belakang. Matanya melirik kursi dekat jendela itu. Ia tahu, tidak semua anak siap berdiri di barisan depan.

Hingga suatu hari, seorang anak duduk di kursi itu.

Namanya Arga. Pendiam. Datang tanpa suara, pulang tanpa cerita. Saat anak lain berebut maju, Arga justru memilih mundur. Duduk dekat jendela, memandang keluar seolah dunia di sana lebih ramah.

Beberapa kali Bu Rini mendengar bisik-bisik. Arga dianggap tidak aktif. Terlalu diam. Hampir saja namanya dicatat. Namun Bu Rini memilih menunggu.

Bu Rini memperhatikannya diam-diam.
Bukan untuk menegur, bukan pula memanggilnya ke depan. Ia membiarkan Arga berada di tempat yang dipilihnya.

Hari demi hari berlalu.
Arga tak pernah mengacungkan tangan, tapi tulisannya selalu selesai. Tak pernah bertanya, tapi matanya menyimak.

Suatu sore, saat kelas hampir kosong, Arga mendekat.

“Bu,” katanya pelan, “kursi ini enak. Saya bisa berpikir.”

Bu Rini tersenyum.
Baru saat itu ia mengerti mengapa kursi itu selalu ia jaga.

Tidak semua anak perlu berada di depan untuk tumbuh.
Sebagian hanya butuh ruang untuk bernapas, merasa aman, dan menemukan suaranya sendiri. Bu Rini tersenyum.
Baru saat itu ia mengerti mengapa kursi itu selalu ia jaga.

Sejak hari itu, Bu Rini tidak pernah lagi memaksa Arga berpindah tempat. Ia hanya sesekali mengajaknya bergabung saat diskusi kelompok. Tidak selalu. Tidak mendesak.

Pelan-pelan, Arga mulai menerima kehadiran teman-temannya. Ia ikut mendengarkan, menyampaikan pendapatnya dengan suara rendah, lalu kembali diam. Setelah diskusi selesai, ia menggeser kursinya kembali ke dekat jendela—ke tempat yang membuatnya merasa utuh.

Bu Rini membiarkannya.
Karena ia tahu, keberanian tidak selalu berarti maju ke depan.
Kadang, keberanian tidak datang dari paksaan, melainkan dari rasa aman untuk belajar dan bertumbuh. Sejak hari itu, kursi paling belakang tak pernah dianggap kosong lagi

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post

Jika Mimi Bisa, Aku Juga Bisa

  Jika Mimi Bisa, Aku Juga Bisa “Win!” teriak Bu Asih dari kamar mandi. “Handuk…

Petualangan Kotak Ajaib

  Petualangan Kotak Ajaib Dika dan Nara, dua bersaudara, sering tinggal berdua di rumah. Orang…

Ruang Tengah dan Sinyal Harapan

Ruang Tengah dan Sinyal Harapan Setiap pulang sekolah, ruang tengah menjadi tempat favorit aku dan…