Posted On Januari 13, 2026

Sore di Tepi Sungai

Admin Danesh 0 comments
Bebe >> Cerpen >> Sore di Tepi Sungai

Sore di Tepi Sungai

“Nilaimu turun lagi, Ucok. Kalau begini terus, Ibu panggil orang tuamu.”

Aku menunduk. Bel pulang berbunyi, tapi kepalaku justru makin berisik. Aku sudah bisa menebak, sore ini Ayah pasti akan bertanya hal yang sama.

Suara Bu Guru masih terngiang di kepalaku saat aku melangkah keluar kelas. Sore itu, aku pulang dengan kepala penuh dan langkah berat

Di rumah, suasana tidak jauh berbeda.

“Kamu itu pulang sekolah langsung main terus,” kata Ibu sambil melipat baju.
“Aku capek,” jawabku pelan.
“Capek apa? Duduk di kelas?”

Aku diam.
Menjelaskan rasanya malah bikin panjang.

Aku masuk ke gudang kecil di samping rumah. Entah kenapa kakiku melangkah ke sana. Di sudut ruangan, joran lama itu masih ada. Agak berdebu, tapi utuh.

“Masih inget caranya nggak, sih?” gumamku sambil tersenyum sendiri.

Sore itu aku tidak izin siapa-siapa. Aku hanya bilang pada ibu, “Ke belakang sebentar.”
Sungai kecil dekat rumah tampak sepi. Aku duduk, menyiapkan kail seadanya, lalu melempar umpan.

Plung.

Pelampung mengapung. Diam.

Aku menunggu. Tidak sambil mengeluh. Tidak sambil mengingat omelan. Aku hanya melihat air dan menarik napas panjang.

“Eh, nggak belajar?”
Suara itu membuatku menoleh. Ayah berdiri beberapa langkah dariku.

“Sebentar,” jawabku jujur.

Ayah tidak marah. Ia hanya duduk di sampingku.
“Dapet ikan?”
Aku menggeleng.
Ayah tersenyum. “Nggak apa-apa.”

Kami diam lagi.

Pelampung bergerak sedikit, lalu tenang kembali. Ikan tidak menyambar. Tapi kepalaku terasa lebih ringan. Dadaku tidak sesak seperti tadi.

‘Maaf ayah jika nilai Ucok belum memuasakan’, kataku lirih. Ucok janji akan bberusaha dan belajar lebih tekun. Akhirnya akau memberanikan diri berkata jujur pada Ayah.

“Ayah percaya, kamu pasti dapat mengejar ketertingalanmu asal lebih pandai mengatur waktu, Bermain gim dan menonton televisi boleh-boleh saja asal porsinya tidak berlebihan. Jangan lupa tidurlah lebih awal agar tubuh dan pikiranmu lebih segar di sekolah”. Hibur ayah menengkanku.

“Baik Ayah sahutku perlahuan, “Terima kasih”

Saat matahari mulai turun, aku berdiri.
“Pulang?” tanya Ayah.
“Iya.”

Aku pulang tanpa membawa ikan. Tapi langkahku lebih ringan dari saat berangkat.

Sejak hari itu, joran itu tidak lagi kusimpan di gudang.
Aku taruh dekat pintu.

Bukan karena aku ingin kabur dari masalah,
tapi karena aku tahu—
kadang, pikiran hanya perlu ditenangkan
sebelum kembali belajar dan menghadapi hari.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Post

Kursi Paling Belakang

Kursi Paling Belakang Kursi itu selalu kosong. Bukan karena rusak, hanya karena letaknya terlalu belakang…

Ruang Tengah dan Sinyal Harapan

Ruang Tengah dan Sinyal Harapan Setiap pulang sekolah, ruang tengah menjadi tempat favorit aku dan…

Jika Mimi Bisa, Aku Juga Bisa

  Jika Mimi Bisa, Aku Juga Bisa “Win!” teriak Bu Asih dari kamar mandi. “Handuk…