Di Antara Dua Dunia
Malam sudah larut. Mata Adit berat, tapi ia tetap bermain game sampai tertidur di atas keyboard. Game itu penuh suara keras, teriakan, dan pertempuran yang menegangkan. Setiap malam seperti ini, ia selalu ingin mencapai level baru, tak peduli tubuhnya sudah lelah.
Saat tidur, mimpi Adit terasa aneh dan menakutkan. Pedang melayang di udara, menunggu dia untuk bertarung. Setiap langkah terasa berat, dan jantungnya berdebar kencang. Dunia nyata dan game bercampur, membuat Aditbingung dan gelisah.
Tiba-tiba, Adit membuka mata. Ia bukan lagi di kamarnya. Ia berada di hutan berkabut. Pohon-pohon tinggi dengan daun hitam menutupi langit. Suara aneh terdengar di mana-mana, seperti langkah kaki dan bisikan. Adit menatap tangannya—ia memegang pedang yang sama seperti di game semalam.
“Ini… nyata?” gumamnya, suaranya bergetar.
Adit melangkah hati-hati. Di sekitarnya, makhluk-makhluk aneh menunggu: robot logam dengan mata merah menyala, monster bersayap yang menatap tajam, dan makhluk kecil berkepala tengkorak yang bergerak cepat. Setiap langkah membuatnya menahan napas.
Ia sampai di jembatan kayu yang menggantung di atas jurang berkabut. Di ujung jembatan, bayangan besar menunggunya. Adit ingat, selama ini ia terbiasa menyerang di game. Ia mengayunkan pedang berkali-kali, “Hiyaaa!” teriaknya, tapi pedang itu tidak menumbangkan makhluk itu. Hatinya bergetar, ia terengah-engah, panik dan takut.
Sejenak, Adit berhenti dan menarik napas. Ia menenangkan diri, mencoba berpikir. Kali ini, ia tidak menyerang. Ia mengamati gerakan makhluk itu dengan hati-hati, mencari celah. Makhluk itu menggeram rendah dan maju sedikit. Adit mundur perlahan, mengitari makhluk itu, sambil tetap waspada. Ia sadar, menyerang atau berlari secara terburu-buru justru bisa membahayakan dirinya.
Perlahan, Adit menemukan jalan di samping makhluk itu dan berlari menuju cahaya kecil di kejauhan. Suasana semakin tegang. Makhluk-makhluk lain mulai mengikuti, dan jembatan kayu berderit di bawah kakinya. Tepat saat ia hampir tertangkap… suara ibunya memecah mimpi itu.
“Adit! Bangun, sayang!”
Ia terbangun dengan terengah-engah dan duduk di kasurnya. Keyboardnya terjatuh di lantai, lampu kamar masih menyala. Ternyata semuanya mimpi—walau terasa begitu nyata.
Adit menatap layar komputer yang mati dan menarik napas lega. Tubuhnya berkeringat, kepalanya berdenyut, namun masih bisa tersenyum lega, menyesal terlalu fokus dan keras bermain game hingga terbawa mimpi. Ia sadar, bermain game terlalu larut bisa membuatnya gelisah, dan mimpi itu mengajarinya untuk tidak terlalu lama bermain game dan menjaga fokusnya, supaya bermain tetap menyenangkan.”.
Sejak malam itu, Adit bermain game dengan lebih bijak. Ia tahu, bukan semua yang ada di layar harus diikuti begitu saja. Game bisa seru, tapi tidur cukup dan mengatur waktu juga tak kalah penting.