Jika Mimi Bisa, Aku Juga Bisa
“Win!” teriak Bu Asih dari kamar mandi. “Handuk itu dijemur, bukan digantung di kamar mandi setelah pakai! Ini juga piring kotor—cuci setelah makan! Berapa kali sih Ibu ingatkan? PR juga belum selesai!” Omel Bu Asih tiada henti. Erwin mengelus kepala, setengah kesal, setengah malu. “Iya, Bu… nanti aku jemur,” gumamnya, tapi hatinya berat. Ia merasa selalu ditegur, tapi sulit mengubah kebiasaan sendiri. Erwin duduk di sofa. Mimi, kucing kecilnya, melompat ke pangkuannya dan mengusap-usapkan kepala pada lengannya. Erwin menggendongnya, lalu mengambil piring makanan Mimi dan meletakkannya di bawah meja makan. Mimi melompat dan mulai makan dengan tenang. Piringnya sudah bersih, tapi beberapa butir jatuh ke lantai. Erwintersenyum kecil, mengambilnya, dan menaruh piring Mimi di tempat yang sama seperti biasa. Ia memperhatikan Mimi, tersenyum sendiri melihat kecomelannya. “Mimi, jangan sembarangan ya,” gumamnya sambil tertawa. Mimi menatap balik dengan mata bulatnya, lalu berjalan ke bak pasir kucing dengan anggun. Erwin tersadar. Mimi belajar rutin: makan di tempatnya, buang air di bak pasir, bahkan datang saat dipanggil. Semua itu karena Erwinsabar mengajarinya, memberi pujian, dan konsisten. Ia menoleh pada dirinya sendiri. Kalau kucing saja bisa belajar kebiasaan lewat kesabaran dan konsistensi, aku juga bisa belajar disiplin. Sejak hari itu, Erwinmulai menaruh handuk rapi setelah pakai, mencuci alat makan sendiri, dan menyelesaikan PR tepat waktu. Semua itu membentuk rutinitas baru. Ia bermonolog, “Masak sih aku nggak bisa disiplin, Mimi saja bisa.” Mimi si oranye seolah memberi semangat, mengeong di sampingnya. Erwin tersenyum, menyadari satu hal sederhana: belajar kebiasaan itu mirip melatih kucing tidak instan, tapi konsisten dan sabar. Ia berjanji akan meringankan beban sang ibu dengan kedisiplinannya. Hari itu, Erwin belajar kedisiplinan dari Mimi: sabar dan latihan perlahan mengubah kebiasaan baik yang tak instan, namun membuahkan hasil yang nyata