Posted On Februari 4, 2026

Musim Rambutan

Admin Danesh 0 comments
Bebe >> Inspiratif >> Musim Rambutan
Musim Rambutan Musim rambutan tiba. Pohon-pohon di kebun milik keluarga Ipul penuh dengan buah merah dan bulat. Hari itu, Ipul bangun lebih pagi dari biasanya. Ia tahu, hari ini bukan sekadar kesenangan, tapi momen penting untuk membantu keluarga dan menambah penghasilan. Tapi hatinya sedikit berat. “Andai saja aku bisa main sepeda dulu sama Dedi… sudah janji tadi malam,” pikirnya sambil menahan rasa malas. Ia tahu Ayah dan Ibu mengandalkannya hari ini, tapi godaan bermain terasa begitu menggoda. “Cepetan, Ipul! Kita mulai panen sebelum panas,” seru Ayah sambil membawa keranjang besar. Ipul menghela napas, mencoba tersenyum. Ia mengambil keranjang kecil, melangkah ke bawah pohon, dan sebelumnya sempat mengabari Dedi bahwa ia tidak bisa ikut main sepeda. Meski ingin bermain, ia sadar bahwa panen hari ini lebih penting bagi keluarga daripada kesenangannya sendiri. Di sudut kebun, Ipul melihat seorang anak laki-laki berdiri ragu-ragu. Bajunya lusuh, wajahnya tampak lapar tapi malu. Ipul mengenalinya. Itu Mamat, anak Bu Sumi, janda dengan dua anak yang hidupnya kurang beruntung. Ipul menunduk dan memanggilnya, “Eh, Mamat. Ayah bolehkah Mamat ikut membantu kita?” Ayah mengangguk tanda setuju. Ipul tersenyum lega dan segera memanggil Mamat. “Mat, mau ikut bantu panen nggak? Nanti kamu dapat buah dan uang jajan sedikit.” Mamat menunduk, ragu. “Aku… aku takut salah, Kak Ipul.” Ipul tersenyum, “Tenang, aku ajarin kok. Tapi harus hati-hati, jangan sampai buah jatuh atau rusak.” Mamat mengangguk pelan, lalu ikut Ipul mendekati pohon rambutan. Awalnya ia canggung, tangannya gemetar memetik buah. Tapi Ipul sabar menuntunnya, menunjukkan cara memetik yang benar. Mereka memetik rambutan sambil bercanda. Ada teman sebaya membuat pekerjaan jadi seru; sesekali mereka makan rambutan di atas pohon dan tertawa bersama. Ketika Mamat digigit semut, ia mengibaskan tangan untuk mengusirnya. Ipul bercanda, “Hati-hati Mat, jangan sampai kamu menginjak sarang semut, nanti induknya marah dan mengeluarkan semua tentaranya,” sambil tertawa. Mamat malu, tapi ikut tertawa. Setelah beberapa saat, keranjang Mamat mulai penuh. Matanya bersinar. “Wah, banyak juga ya, Kak!” katanya girang. Ipul tersenyum, merasa senang melihat Mamat bahagia. Ketika panen selesai, Ipul memberikan beberapa rambutan untuk dibawa pulang oleh Mamat. “Ini buat kamu bawa pulang,” kata Ipul sambil menyerahkan beberapa buah dan sejumlah uang hasil panen. Mamat menatap Ipul seperti melihat kolam di padang pasir, lalu menerima dengan hati lega. “Terima kasih, Kak Ipul,” ucapnya pelan. Ipul tersenyum, hatinya hangat. Ia sadar, manisnya rambutan bukan hanya di mulut, tapi juga di hati saat bisa berbagi dan membantu. Sore itu, keranjang Ipul penuh dengan rambutan siap dijual. Ia menatap kebun sekali lagi, puas. Bukan hanya karena hasil panen banyak, tapi karena hatinya ikut tumbuh lebih besar. Ia bersyukur dapat membantu Ayah dan berjanji akan terus mengurus kebun bersama Ayah serta ikut membantu ketika panen tiba.  

Related Post

Mangga Pak Burhan

Mangga Pak Burhan Di halaman rumah Pak Burhan, tumbuh pohon mangga besar yang selalu jadi…

Baju Olahraga yang Tertinggal

Baju Olahraga yang Tertinggal   Pagi itu lapangan sekolah masih sepi. Jam pelajaran olahraga baru…

Belajar Sabar dari Seduhan Kopi

Belajar Sabar dari Seduhan Kopi   “Duh… rasanya semua kerjaan ini nggak ada habisnya,” gumam…