Baju Olahraga yang Tertinggal
Pagi itu lapangan sekolah masih sepi. Jam pelajaran olahraga baru akan dimulai di jam keempat. Anak-anak duduk di kelas masing-masing, menunggu bel berbunyi.
Aku membuka tasku perlahan, lalu terdiam.
Baju olahragaku tidak ada.
Aku menarik napas panjang. Ini bukan pertama kalinya. Tanganku mengepal kecil di dalam tas. Aku tahu betul rasa ini—rasa panik yang datang karena lalai.
Pikiranku melayang ke beberapa waktu lalu.
Saat itu, kejadian serupa pernah terjadi. Aku lupa membawa baju olahraga dan mengabari ayah lewat pesan WhatsApp. Ayah datang mengantarkan ke sekolah. Di perjalanan, ayah tidak marah. Suaranya tenang, tapi pesannya jelas.
“Ayah bisa mengantar hari ini,” kata ayah sambil menatap jalan, “tapi kalau ini terulang lagi, ayah tidak akan mengantar. Kamu harus belajar bertanggung jawab pada barangmu sendiri.”
Aku mengangguk. Kukira aku sudah mengerti. Ternyata mengerti tidak selalu berarti ingat.
Kini, kejadian itu terulang. Aku menatap jam dinding kelas. Masih ada waktu sebelum pelajaran olahraga dimulai. Tanganku ragu meraih ponsel.
Aku bisa saja menghubungi ayah. Jamnya masih memungkinkan. Namun pesan ayah dulu terngiang jelas di kepalaku. Aku tidak ingin mengecewakannya.
Aku menutup kembali tasku. Pagi tadi aku berangkat terburu-buru naik ojek. Biasanya ibu yang mengantar, tetapi hari ini ibu harus berangkat kerja lebih awal. Aku sadar, alasan-alasan itu tidak mengubah apa pun.
Saat jam olahraga tiba, jantungku berdetak lebih cepat. Aku menunduk, berharap tak ada yang memperhatikan. Dalam kepalaku muncul banyak alasan—rumahku jauh, bajuku masih bersih, ini hanya sekali. Namun semua alasan itu tidak membuat bajuku tiba-tiba ada.
Aku memberanikan diri mendekati guru.
“Bu, saya lupa membawa baju olahraga,” kataku pelan.
Bu Yulia menatapku sejenak. Ia tidak marah, tetapi ada sorot kecewa di wajahnya.
“Ini tidak boleh terjadi lagi, ya,” ucapnya.
Aku mengangguk.
“Baik. Hari ini kamu tidak ikut berolahraga, tapi kamu tetap belajar. Catat aturan permainan dan bantu menyiapkan alat.”
Aku merasa malu, tapi juga lega. Aku duduk di pinggir lapangan, memperhatikan teman-temanku berlari. Sesekali aku membantu mengambil bola yang keluar lapangan. Tanganku memang tidak berkeringat, tetapi pikiranku bekerja.
Saat bel pulang berbunyi, aku tahu satu hal: memilih tidak menelepon ayah pagi tadi adalah langkah kecil yang penting.
Dalam perjalanan pulang, aku menyiapkan rencana sederhana, mengecek perlengkapan sekolah setiap malam. Bukan karena takut tidak diantar lagi, tetapi karena aku ingin dipercaya.